Bandung, 14 Februari 2019. Penonton mulai memasuki gedung pertunjukan Dewi Asri, ISBI Bandung pukul 20.30 WIB. Gedung pertunjukan yang berupa arena tersebut tidak dipenuhi oleh penonton. Namun tidak juga dapat dibilang sepi, tersisa ¼ dari keseluruhan kapasitas bangku penonton. Penontonpun digiring untuk duduk di atas arena permainan, sejajar dengan pemain. Mungkin maksudnya supaya penonton dapat terlibat dan merasakan aura pertunjukan.

 Penonton disambut oleh set panggung besar yang terbuat dari bamboo yang disusun mengerucut. Bentuknya seperti rumah tradisional Manggarai (Mbaru Niang) namun tanpa atap. Tentu saja tanpa atap (kebutuhan panggung), jika dengan atap, ruangan bagian dalam susunan bamboo tersebut tidak dapat digunakan untuk beradegan. Di bagian dalam susunan bamboo – mari kita sebut Mbaru Niang – diserakkan juga dedauan. Mungkin serakan daun tersebut adalah lantai dari Mbaru Niang atau sebagai pembeda antara ruang dalam dan luar. Selain itu, secara artistic, set nampak indah dengan adanya dedauan tersebut. Mabaru Niang, dikelilingi oleh 7 buah penampi beras.

Diawali dengan lantunan lagu tradisional dari pemusik yang berada di tengah Mbaru Niang, kemudian disusul dengan adegan seperti memintal/menggulung benang oleh enam perempuan. Adegan selanjutnya, pemusik sudah tidak ada di dalam Mbaru Niang, tersisa seorang laki-laki di tengah dan para perempuan menghadap ke luar Mbaru Niang. Seorang perempuan yang terlihat tua kemudian memanggil, dan mereka berkumpul. Lalu berdialog. Mereka seakan mendengar suara dan mencari sumbernya. Sedangkan laki-laki di tengah seperti berada di tempat lain. Saya mengira bahwa para perempuan sudah tidak berada di dalam Mbaru Niang, melainkan di hutan atau ladang. Mereka pun bertemu dengan sumber suara yang ternyata adalah laki-laki (Kae). Ase hidup tanpa orang tua. Hanya bersama kakaknya namun mereka terpisah (diceritakan pada Bagian Pertama dari Trilogi Ase-Kae). Oleh perempuan tua itu, Ase dirawat.

Adegan selanjutnya, Kae meringkuk kedinginan di tengah Mbaru Niang. (ini adalah adegan favorit saya). Perempuan tua muncul dan masuk ke dalam Mbaru Niang. Ia menghampiri laki-laki tersebut, dengan lembut, dipangkunya kepala Kae. Saya merasa seperti bukan di Bandung, terlebih perempuan tua itu juga menyirih (mengunyah daun sirih) yang merupakan kebiasan orang Manggarai. Kemudian dinyanyikanlah lagu ‘nina bobo’ versi Manggarai. Lagu tersebut menggambarkan betapa sayangnya seorang ibu kepada anak. Keintiman ibu terhadap anaknya pada adegan ini diperkuat oleh tata cahaya. Sederhana namun menggetarkan hati. Hanya menggunakan sebuah lampu yang cahayanya seperti cahaya masuk ke dalam ruangan gelap melalui pintu yang terbuka.

Oleh perempuan tua itu, Ase diajarkan berbagai pengalaman, salah satunya adalah menampi beras. Pada adegan ini, 3 perempuan menenun, 2 lainnya mengurai benang dan mengikatkannya pada batang-batang bamboo. Sedangkan perempuan tua, mengajarkan Kae memilah dan menampi beras.

Sedangkan di luar, sang Kakak (Ase) telah menjadi Raja. Proses menjadi raja ditunjukkan mulai dari mengenakan kain, baju, disusul dengan ikat kepala kemudian pemberian senjata. Dalam perjalanannya, Ase dan Kae bertemu. Keduanya kemudian bertarung (Caci).

Akhir cerita Mose-Ende ini, Kae berpamitan kepada para perempuan utnuk mencari kakaknya kembali. Adegan ditutup dengan Kae mengelilingi Mbaru Niang, dan para perempuan mengikuti kepergian Kae dengan tangis.