Kamis, 30 Agustus 2018 Pascasarjana ISBI Bandung selalu berupaya memberi ruang-ruang ilmiah sebagai tempat berbagi wacana dan keilmuan secara akademik. Studium General merupakan salah satu program yang mempertemukan mahasiswa baru dengan pemikir-pemikir akademik yang dapat membuka cakrawala berpikir dalam menghadapi medan akademik. Selain itu pertemuan ini diharapkan bermanfaat pula bagi civitas akademik ISBI Bandung dan masyarakat akademik lainnya yang memiliki ketertarikan khusus pada riset dengan pendekatan semiotik.

Semiotika adalah ilmu tentang tanda. Bagaimana semiotika dapat membantu penelitian seni budaya?. Semiotika adalah pendekatan yang luas dengan banyak pemikir –pemikir utamanya. Semiotika memiliki dua jalur, pertama sebagai alat untuk mengkaji, atau metode kajian (decoding). Kedua yang sering luput adalah bahwa semiotik juga dapat digunakan sebagai alat untuk berkarya (encoding, yang dapat mengembangkan karya-karya baru). Untuk decoding pada gambar, misalnya, banyak kemungkinan informasinya sebelum diberi konteks. Fungsi tanda adalah substitusi. Gambar adalah si pemberi makna. Fungsi tulisan (verbal sign) pada gambar untuk memastikan supaya analisis dapat dipertanggungjawabkan. Untuk mencipta (encoding) maka proses dapat dibalik selama sang pencipta memahami kode-kode umum yang berlaku. Pada prosesnya kemudian, umumnya karya seni melawan aturan-aturan umum yang berlaku.

Saussure sebagai bapak semiotik mengulas semiotik ucapan, bukan gambar. Pada Linguistic Sign atau struktur tanda menurut Roland Barthes ada signifier dan signified. Dalam semiotik, sesuatu yang  dimunculkan akan bermakna sesuai dengan konteksnya. Dalam menganalisis dapat digunakan bahwa ada tanda yang synchronic dan ada yang diachronic. Dalam dunia tanda ada dua tanda yang harus dibedakan, satu wilayah sistem (Langue) dan satu lagi praktik bahasa (Parole). Dalam semiotik ada konsep Saussure yang sangat signifikan, yaitu difference atau perbedaan. Konsep ini dapat digunakan dalam berkarya. Seni adalah pembedaan yaitu memunculkan hal-hal yang berbeda. Sementara itu konsep Semiotik Peirce adalah representamen, objek, interpretan. 

Semiotik dapat merupakan metode penelitian yang bersifat interpretatif. Penelitian  semacam ini bergantung pada pengetahuan yang mengendap di masyarakat dalam bentuk jurnal, buku, dll. Penelitian interpretatif akan objektif ketika sumber-sumber bacaan atau rujukan literaturnya kuat. Sementara itu banyak cabang semiotika yang khusus, seperti semiotika seni, semiotika musik, semiotika produk, dll. Masing-masing memiliki kekhususan. Hal ini akan terkait pula dengan metode yang digunakan. Menggeluti teori dan metode dalam mengkaji adalah sebuah keniscayaan. Fleksibilitas metode dapat dipraktikkan ketika dasar keilmuan sudah kuat, sehingga hasil riset tidak menjadi sesuatu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan

Pertemuan ini hanyalah sebuah pengangar. Untuk dapat menggunakan semiotik dalam riset, kita perlu mempelajarinya lebih detil dan lebih mendalam. Akhirnya semoga pertemuan ini membuka kesadaran bahwa riset dengan semiotik bukan hanya tentang  gambar, bentuk, atau teks dalam arti statis melainkan bagaimana tanda-tanda tersebut terkait dengan konteksnya. Pemaknaan tersebut tidak akan lepas dari ideologi, pikiran, dan budaya dalam masyarakat, dalam setiap ranah kehidupan. Pada akhirnya rumusan ini ditutup dengan semangat pepatah Cina, “Tidak apa-apa menjadi gunung yang kecil asalkan ada Dewanya”. Semoga mahasiswa-mahasiswa kita dapat menjadi dewa-dewa kecil itu dalam studinya di ISBI Bandung.

 

Studium General Tahun 2018_1                                    Studium General Tahun 2018_3                                    Studium General Tahun 2018_7

 

Studium General Tahun 2018_4                                    Studium General Tahun 2018_5                            Studium General Tahun 2018_6