RUMUSAN GLADI NALAR PSPSR UGM DAN PASCASARJANA ISBI BANDUNG 

Spirit Gladi Nalar yang digagas oleh Pascasarjana ISBI Bandung tahun 2016 lalu dan ditindaklanjuti oleh PSPSR UGM hari ini adalah spirit berbagi dan memotivasi mahasiswa agar memiliki tradisi berbincang, uji nyali, dan pengalaman berbagi dengan yang lain.  Tema yang diangkat oleh PSPSR UGM kali ini adalah Relevansi isu, teori, dan metode pengkajian seni. Hal ini merupakan persoalan-persoalan yang ada di seputar mahasiswa. Bagaimana memilih isu dan menggunakan teori. Namun yang perlu diingat adalah teori jangan sekedar digunakan atau dipakai tapi dimanfaatkan bahkan diwacanakan sehingga kita juga bisa mengkritik dan lebih kritis.
Peneliti memiliki kepekaan untuk mengelaborasi agar hasil penelitian memiliki kebaruan. Penelitian Nyanyian Wor cukup strategis mewadahi kajian multi disiplin. Peneliti memiliki kegelisahan apakah nyanyian wor merupakan  musik, upacara, atau tari.  Namun dari sudut pandang kultural nyanyian wor ini tidak perlu digolongkan atau diberi label khusus, justru tunjukkan kekhasannya sebagai kultur Indonesia. Dari sini justru mungkin bisa ditemukan satu teori yang bisa menandai Indonesia. Ada strategi yang bisa kita ambil dan maknai agar penelitian memiliki kontribusi.
Politik silang gender dari karya mas DNT ini dapat dipertajam untuk dikaji secara kritis bagaimana strategi mas DNT secara politis misalnya bisa masuk ke istana. Peneliti harus memiliki kepentingan bagaimana kontribusi atau makna yang ditawarkan pada masyarakat dari hasil penelitiannya.  Pernyataan “Peneliti bersifat netral” mungkin harus ditandai dalam bentuk apa. Keilmuannya harus netral tapi aplikasinya bisa kritis. Pemilihan kita terhadap isu dan metodenya pun sudah merupakan keberpihakan. Ego peneliti ketika tidak mau dibatasi teori tetap harus menggunakan strategi agar sebagai sebuah hasil penelitian ia dapat disandingkan dan setara secara lebih universal.

Perlu disadari seni memiliki karakter spesifik dan memiliki tugas yang tidak sekedar merepresentasikan sesuatu yang ada di dalam pikiran tapi juga mempresentasikan, membuat sesuatu teralami. Ada karakter yang kurang lebih sama antara seni dan agama. Agama dan keimanan adalah sesuatu yang intangible atau transenden. Yang intangible harus ada yang tangible nya. Yang transenden harus ada yang imanensinya. Kreativitas tugasnya menampilkan sesuatu yang tidak biasa. Kerja kreatif misalnya dalam teori Bordieu adalah seorang kreator tidak akan menyerah pada lingkungannya. Karakter seniman tidak mau hanya menjadi peniru. Seperti halnya seni yang memiliki ruang pakem, namun gerak seniman tidak hanya dalam ruang pakem itu.

Waktu Pelaksanaan:
Hari/Tanggal : Jumat, 19 Mei 2017
Pukul : 08.00 WIB s.d Selesai
Tempat : Ruang Sidang Lt. IV ISBI Bandung